Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

15

Di era teknologi sekarang ini, kejahatan marak terjadi, bahkan di dunia maya. Ya, banyak kasus kriminalitas yang terjadi melalui media sosial atau yang lebih dikenal dengan cyber bullying, seringkali berdampak negatif pada korbannya. Sayangnya, banyak orang yang meremehkan dampak kekerasan di dunia maya. Bahkan, bahaya cyber bullying disebut-sebut membuat korbannya ingin bunuh diri. Bagaimana bisa? Berikut penjelasannya.

Benarkah bahaya cyber bullying bisa berujung pada bunuh diri?

Siapa yang tidak memiliki media sosial dengan teknologi saat ini? Tampaknya sebagian besar orang memiliki akun media sosial. Padahal, hal tersebut cenderung tidak bisa dipisahkan, dari berbagai hal menarik yang ditawarkan dunia maya. Meski begitu, siapa pun harus tetap waspada dengan kejahatan yang bisa muncul kapan saja, termasuk bullying di dunia maya (cyber bullying).

Pasalnya, terdapat berbagai bahaya cyber bullying yang dapat dengan mudah menjerat korban hanya karena tidak berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Sayangnya, hal ini tidak hanya terjadi pada korbannya, tetapi juga berlaku pada pelaku kekerasan di dunia maya.

Dilansir dari laman Science Daily, sebuah penelitian yang dipimpin Profesor Ann John dari Sekolah Kedokteran Universitas Swansea, bekerja sama dengan para peneliti dari Universitas Oxford dan Universitas Birmingham, melakukan penelitian terhadap 150.000 anak muda di 30 negara.

Studi tersebut menyoroti bahaya cyber bullying, baik bagi pelaku maupun korban, yang biasanya terjadi pada remaja di bawah 25 tahun.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Internet Research menyebutkan bahwa remaja yang menjadi korban kekerasan di media sosial lebih rentan untuk melukai diri sendiri dan melakukan bunuh diri. Sedangkan mereka yang berperan sebagai pelaku, 20 persen memiliki risiko lebih tinggi memiliki pikiran untuk bunuh diri bahkan mencoba bunuh diri.

Sebagian besar anak muda yang menjadi pelaku dan korban penindasan di media sosial, tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dijelaskan oleh Paul Montgomery, seorang profesor dari Universitas Birmingham, bahwa orang-orang yang terlibat dalam kasus kekerasan di media sosial pada dasarnya memiliki masalah traumatis yang sama. Hal itulah yang biasanya menjadi motivasi para pelaku kekerasan di dunia maya.

cegah penindas maya di internet

Bahaya cyber bullying juga dapat menyerang kondisi emosional dan fisik

Pada awalnya, seorang remaja yang menjadi korban cyber bullying akan mengalami gangguan emosi dan fisik yang parah. Meliputi masalah emosional, perilaku, kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan bergaul dengan teman sebaya.

Tak hanya itu, anak-anak korban kekerasan media sosial juga kerap mengalami sakit kepala berulang dan sulit tidur. Faktanya, satu dari empat remaja mengatakan mereka merasa tidak aman di sekolah.

Jika gangguan emosi ini tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin menimbulkan pikiran untuk bunuh diri.

Sebetulnya boleh aktif di dunia maya asal …

Efek sekecil apapun dari bullying, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, tentunya tidak bisa dianggap remeh. Lambat laun, kondisi ini dapat membahayakan baik korban maupun pelaku sehingga terjadi hal-hal yang mungkin tidak diharapkan.

Menurut Andre Sourander, MD, PhD, psikiater anak di Turku University, Finlandia, bahwa orang tua, guru di sekolah, bahkan remaja sendiri harus sadar dan memahami bahaya yang ditimbulkan oleh cyber bullying.

Jika Anda adalah orang tua dan memiliki anak yang "aktif" di dunia maya, tidak ada salahnya memantau setiap detail aktivitasnya saat menggunakan media sosial. Bangun situasi obrolan yang santai, kemudian baru mengobrol dengan remaja tersebut dan katakan padanya untuk selalu berhati-hati dalam bersosialisasi di dunia maya.

Sedangkan jika Anda sendiri adalah pengguna sosial, sebisa mungkin hindari melakukan hal-hal yang dapat memicu kejahatan. Sebaliknya, gunakan semua akun media sosial Anda sesuai porsinya.

Postingan tersebut Benarkah bahaya cyber bullying bisa memicu bunuh diri? muncul pertama kali di Hello Sehat.