Pernikahan Beda Usia, Membawa Tantangan Sekaligus Dinamika

32

Pernikahan antara generasi yang berbeda atau antara pasangan yang memiliki perbedaan usia (10 tahun atau lebih) adalah normal. Setiap individu berhak memilih siapa saja untuk menjadi pasangan hidupnya.

Namun, menikahi seseorang dari berbagai usia, baik yang lebih muda maupun yang lebih tua, adalah keputusan besar. Alasannya, secara psikologis, pernikahan dari generasi yang berbeda memiliki konflik yang berbeda dengan pasangan pada umumnya, sehingga mengharuskan pasangan untuk saling memahami dengan lebih baik.

Tantangan dalam pernikahan di berbagai usia

Tidak dapat dipungkiri, pernikahan di berbagai usia memang memiliki potensi konflik pernikahan yang berbeda dibandingkan dengan pasangan menikah yang usianya relatif sebanding. Ada beberapa hal yang mungkin perlu dibahas dan didiskusikan secara menyeluruh ketika memutuskan untuk menikahi seseorang dari generasi yang berbeda.

Pasangan dari generasi yang berbeda rentan terhadap konflik terkait dengan perkembangan psikologis dan sosial. Yaitu, usia yang berbeda, masalah psikologis yang berbeda, bimbingan, dan peran mereka dalam lingkungan sosial.

Ambil contoh potensi konflik dalam pernikahan generasi yang berbeda secara umum dengan usia pasangan pria yang jauh lebih tua. Suami berusia 40-65 tahun telah mencapai perkembangan emosi yang matang sehingga perubahan suasana hati lebih stabil. Sementara itu, seorang istri berusia 20-30 tahun masih memiliki jiwa muda yang bebas dan penuh dinamika.

Sang suami bisa jadi sulit memahami atau menyesuaikan diri dengan perubahan suasana hati istri dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, suami yang lebih suka ketenangan di rumah dapat mengalami kesulitan mengikuti gaya hidup istri yang lebih suka menghabiskan waktu di luar. Apalagi, dia bisa kecewa karena istrinya sering meninggalkan pekerjaan rumah tangganya.

Dalam kasus pernikahan dengan istri yang lebih tua, suami yang lebih muda dapat merasa terintimidasi atau kurang percaya diri dalam hubungan. Perasaan ini biasanya muncul karena pada saat itu, suami masih berusaha mengejar karir, sementara istri lebih mapan, bahkan di puncak karier.

Pahami akar masalahnya, kunci pernikahan dari berbagai usia

Konflik dalam perkawinan yang melibatkan pasangan dari kelompok umur yang berbeda sebenarnya dapat diatasi dengan memahami dasar masalah konflik. Umumnya, ini berakar pada masalah perkembangan psikologis dan sosial tergantung pada perkembangan usianya.

Jika merujuk pada teori perkembangan psikososial dari psikolog Jerman, Erik Erikson, seorang individu akan mengalami krisis yang berbeda di setiap tahap perkembangan usianya.

Bagi orang berusia 20-30 tahun, mereka biasanya mengalami kecemasan tentang kepastian karier dan mendapatkan pasangan yang ideal. Pada tahap ini seseorang cenderung mengalami krisis identitas yang membuatnya sering merasa terasing dari lingkungan sosial dan kesepian.

Sedangkan bagi orang yang sudah memasuki usia 40-65 tahun tujuannya adalah menemukan makna hidup. Orang-orang di usia ini lebih fokus pada bagaimana profesi yang dijalaninya sejauh ini dan sejauh mana ia bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Krisis yang cenderung dialami adalah perasaan cemas jika ternyata tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat atau menjalani kehidupan yang monoton. Mereka juga takut kehilangan orang terdekat. Kondisi ini juga dikenal sebagai krisis paruh baya.

Dengan mengenali masalah psikologis dan tuntutan sosial berdasarkan usia pasangan, Anda dapat lebih memahami harapan, komitmen, dan kekhawatiran yang ditunjukkan pasangan dalam hubungan pernikahan.

Keuntungan dari berbagai generasi pernikahan

Umumnya, mereka yang memutuskan untuk menikah memiliki usia yang cenderung tidak jauh berbeda. Dalam studi dari jurnal Asosiasi Psikologi Amerika pada tahun 2019, misalnya, diketahui bahwa usia rata-rata pasangan di Amerika adalah 3 tahun dengan usia pasangan pria yang lebih tua dari wanita.

Meski begitu, tidak ada kesenjangan usia standar bagi pasangan untuk memastikan pernikahan yang langgeng. Padahal, ini bisa membawa manfaat.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Purdue, hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang memiliki suami yang jauh lebih tua merasa lebih bahagia melalui pernikahan daripada pasangan menikah yang tidak memiliki banyak perbedaan usia.

Salah satu aspek yang menentukan kebahagiaan dari pernikahan di usia yang jauh adalah keamanan finansial. Selain menjadi matang secara emosional dan psikologis, pria berusia 45-60 tahun umumnya sudah mapan secara ekonomi sehingga kebutuhan hidup yang membutuhkan banyak biaya seperti rumah dan kendaraan bisa dipenuhi.

Secara psikologis, menikah dengan orang yang lebih tua, baik untuk pasangan pria atau wanita, dapat menciptakan perasaan aman bagi pasangan yang lebih muda. Ini karena orang tua memiliki banyak pengalaman hidup sehingga mereka bisa menjadi panutan sekaligus pelindung.

Keuntungan ini juga timbal balik pada pasangan yang lebih tua. Karena dia sering mencari makna hidup, dia akan merasa dirinya berharga jika dia dapat membantu orang lain, terutama pasangannya.

Pos Perbedaan Pernikahan dalam Usia, Membawa Tantangan dan Dinamika muncul pertama kali di Hello Sehat.